ONTOLOGI, EPISTOMOLOGI, AKSIOLOGI???
Menurut referensi yang saya baca, ONTOLOGI (hakaekat) membahas tentang yang ada, yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu. Ontologi membahas tentang yang ada yang universal, menampilkan pemikiran semesta universal. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan. EPISTOMOLOGI (metode) bersangkutan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang pengetahuan. Sebelum dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan kefilsafatan, perlu diperhatikan bagaimana dan dengan sarana apakah kita dapat memperoleh pengetahuan. Jika kita mengetahui batas-batas pengetahuan, kita tidak akan mencoba untuk mengetahui hal-hal yang pada akhirnya tidak dapat di ketahui. Memang sebenarnya, kita baru dapat menganggap mempunyai suatu pengetahuan setelah kita meneliti pertanyaan-pertanyaan epistemology. Kita mungkin terpaksa mengingkari kemungkinan untuk memperoleh pengetahuan, atau mungkin sampai kepada kesimpulan bahwa apa yang kita punyai hanyalah kemungkinan-kemungkinan dan bukannya kepastian, atau mungkin dapat menetapkan batas-batas antara bidang-bidang yang memungkinkan adanya kepastian yang mutlak dengan bidang-bidang yang tidak memungkinkannya. Manusia tidak lah memiliki pengetahuan yang sejati. AKSIOLOGI (baik-buruk) ini adalah berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan; untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/professional?
Ontologi – Ontologi
Ontologi membicarakan tentang yang ada atau suatu hakekat. Manusia hanya mengetahui hakekat, hanya sekedar tahu saja. Manusia tidak tahu hakekat, apa itu hakekat. Ontologi-ontologi berarti hakekat hakekat dan yang tahu hakekat atas hakekat hanya Tuhan saja.
Ontologi – Epistomologi
Merupakan hakekat daripada metode. Hakekatnya metode bagaimana. Kita berusaha secara ontologi mengungkap hakekat metode. Ontologi – epistomologi keduanya tidak dapat dipisahkan, benar salah adalah epistomologi, metode juga merupakan epistomologi.
Ontologi – Aksiologi
Adalah suatu hakekat baik-buruk, dalam filsafat segala sesuatu pasti merentang mulai dari obyek material, formal, spiritual. Hakekat baik-buruk tidak mungkin sama antara orang yang satu dengan orang yang lain, satu orang pun juga mungkin juga akan berbeda. Misal saya menganggap teroris itu buruk, belum tentu orang lain menganggap teroris juga buruk, saya bisa juga menganggap ruwatan itu baik, namun mungkin setelah beberapa detik saya bisa menganggap ruwatan itu buruk. Warga Amerika menganggap tewasnya Osama adalah sesuatu yang baik, namun bagi pengikutnya, tewasnya Osama adalah hal yang buruk. Jadi hakekat baik – buruk itu tergantung siapa yang memandangnya, setiap orang tentu pemikirannnya berbeda.
Epistomologi – Ontologi
Adalah metode untuk menggapai hakekat. Bagaimana cara kita menggapai hakekat, bagaimana pengetahuan kita mengungkap hakekat tentang sesuatu.
Epistomologi – Aksiologi
Merupakan metode untuk menggapai baik-buruk. Bagaiamana cara kita menemukan baik-buruk segala sesuatu yang timbul dalam kehidupan ini. Mengungkap kembali mengenai tewasnya Osama. Osama bin Laden merupakan kritik terhadap orang yang berkuasa.
Epistomologi – Epistomologi
Merupakan metode untuk menggapai metode. Bagaimana cara untuk menemukan cara melakukan apa yang kita pikirkan. Metode untuk memperoleh ilmu dan pengetahuan.
Aksiologi – Ontologi
Baik-buruknya hakekat, etis dan etestika berfikir tentang hakekat. Misal ketika kita berbicara tentang Tuhan jangan di tengah pasar, pasara tempat jual-beli, kurang sopan jika membicarakan Tuhan di pasar, bisa-bisa dianggap gila. Berbicara Tuhan sebaiknya di tempat yang pantas seperti masjid, gereja atau sesuai dengan keyakinannya masing-masing.
Aksiologi – Epistomologi
Baik-buruknya metode, etis dan etestika suatu metode. Bagaimana cara/metode menyatakan sesuatu dengan sopan dan santun.
Aksiologi – Aksiologi
Baik-buruknya tentang baik-buruk, menyampaikan baik-buruk dengan cara yang baik Misalkan tentang ritual di Jawa, dulu atau sekarangpun mungkin masih ada, di dekorasi pernikahan diberi tebu, dalam hal ini makna tebu adalah anteping kalbu, yang berarti agar kedua mempelai saling menyayangi satu sama lain, sehingga hubungan suami istri dengan hati yang mantab maka akan dapat mengalahkan segala rintangan dalam hidup.
BATAS PIKIRAN???
Batas pikiranku di dalam hatiku. Aku berfilsafat agar aku tidak predujise. Tingkatan pikiran kita pertama adalah bersifat material yang berkaitan dengan tindakan, naik lagi ke formatif yang berkaitan dengan tulisan, naik satu tingkat lagi ke normatif yang berkaitan dengan pikiran dan puncak tertinggi adalah subyektif yang berkaitan dengan doa. Ketika pikiran kita menjadi panas dan butuh pendinginan, maka hal yang perlu kita lakukan adalah berdoa, memohon ampun kepada Tuhan YME.
MITOS???
Orang awam menganggap mitos sebagai hal yang berbau mistis dan berkaitan dengan hal yang aneh-aneh, mitos seperti ini disebut sebagai mitos primitif. Contoh mitos primitif: Awas pohon beringin itu banyak penunggunya!!, mendengar kalimat seperti itu mungkin kita tidak akan berani untuk mendekati pohon beringin tersebut. Mitos itu tidak selamanya buruk. Sholat pun bisa dianggap sebagai mitos, dianggap mitos jika kita hanya melakukan sholat sebagai kewajiban saja, tanpa diikuti dengan amalan yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Mitos memiliki banyak arti, mitos dalam arti sempit, mitos dalam arti luas dan mitos dalam arti dangkal.
Menurut referensi yang saya baca. Selama beribu-ribu tahun, mitos menjadi alat penjelas bagi manusia akan misteri dunia sekitarnya. Hujan turun. Panen gagal. Semuanya dijelaskan dalam kerangka bermakna yang disebut sebagai cerita. Modernitas lahir dengan rasionalitasnya. Mitos ditantang dan dipandang sebagai mimpi belaka. Cerita lenyap digantikan penjelasan mekanistik tentang semesta, yang hilang bukan hanya cerita, tetapi makna yang sebelumnya melingkupi dunia dengan kata. Dari sini saya dapat menyimpulkan bahwa mitos sangat bermanfaat bagi kita, ia menjelaskan kita tentang asal muasal peristiwa dan fenomena dunia yang menggetarkan jiwa. Ia memandu kehidupan kita, manusia.
KAITAN BAHASA DENGAN FILSAFAT???
Bahasa adalah duniaku, rumahku sehingga diriku tidak lain tidak bukan adalah bahasaku. Selama ini aku berfikir filsafat menggunakan bahasa. Orang berfilsafat menggunakan bahasa. Orang menganggap bahasa filsafat terlalu tinggi, maka sekarang ini bahasa filsafat menggunakan bahasa yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, dalam berfilsafat menggunakan bahasa analog agar lebih dimengerti isinya.
Referensi:
Great...go stright on..
ReplyDelete