Thursday, June 9, 2011

REFLEKSI BELAJAR FILSAFAT DAN KETERKAITAN FILSAFAT DALAM PEMBELAJARAN

Filsafat Pendidikan Matematika merupakan mata kuliah wajib yang harus ditempuh oleh mahasiswa Jurusan Pendidikan Matematika UNY. Semester VI ini saya menempuh mata kuliah Filsafat Pendidikan Matematika yang diampu oleh Bapak Marsigit. Salah satu unsur wajib mengikuti kuliah ini adalah memberi koment dalam elegi Pak Marsigit. Awalnya dalam memberikan koment saya masih bingung, apa yang harus saya tulis, tapi seiring berjalannya waktu saya sudah terbiasa untuk memberikan koment, walaupun saya menyadari tidak selamanya koment yang saya berikan benar. Pak Marsigit pun juga menyatakan bahwa banyak mahasiswa yang memberikan koment, namun koment yang diberikan tidak sesuai dengan inti persoalan dalam elegi. Mungkin saya juga termasuk salah satunya, tetapi ketika memberikan koment, saya selalu berusaha agar apa yang saya tuliskan sesuai dengan maksud dari elegi yang dipostingkan.
Ketika berfilsafat kita harus tahu keberadaan kita, dengan siapa dimana kapan dan bagaimana kita berbicara, kerana filsafat selalu relatif terhadap ruang dan waktu. Berganti waktu maka semuanya akan berubah. Filsafat orang yang satu dengan yang lain tidak mungkin dan tidak akan sama. Terkadang ketika berbicara dan apa yang kita bicarakan tidak selamanya dapat diterima orang, tapi apa yang kita sampaikan belum tentu salah. Inilah keunggulan filsafat bebas mengungkapkan semua ide dan pikiran kita, karena tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah dalam berfilsafat.
Selama mengikuti kuliah filsafat ini, banyak ilmu yang saya dapatkan, dengan membaca elegi yang dipostingkan, saya memperoleh banyak informasi tidak hanya tentang filsafat, namun juga tentang kehidupan. Awalnya mungkin saya merasa berat membaca elegi, mungkin karena bahasanya dan isinya yang terlalu panjang. Tetapi setelah saya membaca elegi hari senin, saya merasa tertarik untuk membaca elegi, dari elegi hari senin, saya bisa mengetahui makna dari senin. Dan yang paling berkesan bagi saya adalah mengenai elegi-elegi yang berkaitan dengan rasa syukur kita kepada Tuhan, setiap elegi yang bertema religius, saya semakin sadar betapa kurangnya rasa syukur saya kepada Tuhan. Selain itu fiilsafat juga mengajarkan pada kita untuk selalu bersikap sopan dan tidak sombong terhadap semua hal.

Lalu bagaimana kaitannya Filsafat Pendidikan dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di sekolah??
Tentu banyak kaitan filsafat pendidikan dengan KBM, seperti yang telah disampaikan dalam postingan blog The Power of Mathematics yang berisi tentang Hakekat matematika sekolah. Hakekat matematika sekolah itu sendiri meliputi 4 hal yaitu investigasi, problem solving, komunikasi dan penemuan . Artinya kegiatan matematika meliputi segala penelusuran, dimana setiap hasil dari penelusuran itu harus dikomunikasikan, agar semakin banyak siswa yang paham dengan matematika. Mengenai problem solving, bagaiaman seorang siswa dapat menyelesaikan persoalan berdasarkan pengetahuan dan kekretivitasan yang dimilkinya. Obyek dari matematika realistik adalah segala proses yang berlangsung dalam pembelajaran itu, dengan belajar filsafat pendidikan matematika, sangat wajiblah kita menerapkan itu dalam KBM. Filsafat akan mampu memberikan inovasi dan kreasi yang baru dalam belajar, sehingga proses belajar akan berjalan dengan sangat menarik. Dalam pembelajaran matematika, kita tidak mengajarkan bagaimana siswa harus menghafal rumus matematika, yang mungkin siswa juga sangat takut dengan rumus-rumus ini. Namun, yang perlu disampaikan bagaimana siswa dapat memahami matematika dengan baik dan bijak.

Mengenai kaitan filsafat pendidikan dengan kegiatan pembelajaran yaitu filsafat pendidikan banyak memberikan andil dalam proses pembelajaran, antara lain yaitu:

1. Filsafat pendidikan idealisme
Menurut para filsuf idealisme, pendidikan bertujuan membantu perkembangan pikiran dan diri pribadi siswa, artinya pendidikan bertujuan membantu pengembangan karakter, bakat, dan kebajikan sosial manusia. Mengingat Tuhan menciptakan manusia dengan bakat yang berbeda, maka pendidikan yang diberikan harus disesuai dengan siswa, agar apa yang diperoleh siswa dapat maksimal dan mampu mengembangkan bakat yang dimilikinya. Agar pembelajran dapat disesuai dengan bakat siswa, hendaknya ketika mengajar guru memberikan kesempatan kepada siswa berfikir/berpendapat dan sangat penting, jika apa yang difikirkannya menjadi kenyataan dalam perbuatan. Metode mengajar hendaknya mendorong siswa untuk memperluas pengetahuan dan pikirkan agar bakat dapat terasah dengan baik. Jika dihubungakan dengan metode pembelajaran, CTL(Contextual Teaching and Learning) merupakan metode yang cocok untuk keadaan seperti ini. CTL merupakan metode yang mampu membantu guru dalam mengaitkan materi dengan kehidupan di sekitar mereka. Sehingga siswa akan mampu berfikir kritis dalam menanggapi materi yang diberikan guru, karena keterkaitan materi dengan kenyataan di sekitarnya. Hal ini sangat cocok dalam pembelajaran matematika, karena keterkaitan matematika dengan kehidupan akan membantu siswa untuk menyukai dan tertarik dengan matematika.
2. Filsafat pendidikan realisme
Menurut filsafat realisme, metode pembelajaran hendaknya bersifat logis dan psikologis. Metode mangajar yang disarankan adalah metode yang sifatnya mewajibkan, artinya siswa diwajibkan untuk dapat menjelaskan, membandingkan fakta-fakta, mengipretasi hubungan dan mengambil kesimpulan atas makna-makna baru. Memberikan reward bagi siswa yang sukses sebagai tujuan motivasi artinya segala metode pembelajaran bertujuan untuk memotivasi siswa agar mau belajar dan belajar.
3. Filsafat pendidikan pragmatisme
Menurut filsafat pendidikan pragmatisme, pendidikan hendaknya bertujuan memberikan pengalaman untuk menemukan atau memecahan hal-hal baru dalam kehidupan. Dalam metode pemebelajaran pragmatisme mengutamakan metode pemecahan masalah (problem solving method), serta metode penyelidikan dan penemuan (inquiry dan discovery method). Model pembelajaran yang ada, bertujuan pemroses informasi yang berkenaan dengan kemampuan untuk memecahkan masalah dan kemampuan berpikir produktif. Filsafat pendidikan ini sangat berkaitan dengan hakekat matematika sekolah yaitu tentang problem solving dan investigasi.
4. Filsafat pendidikan konstruktivisme
Filsafat konstruktivisme tujuannya lebih ditekankan pada perkembangan konsep dan pengertian yang mendalam sebagai hasil konstruksi aktif siswa. Setiap siswa mempunyai caranya sendiri untuk mengerti, karena itu mereka perlu menemukan cara belajar yang tepat untuk dirinya masing-masing. Dalam konteks ini maka tidak ada metode mengajar yang tepat, satu metode mengajar saja tidak akan banyak membantu siswa dalam belajar, sehingga guru sangat mungkin untuk menggunakan berbagai metode yang akan membantu siswa.

Dengan belajar filsafat pendidikan matematika, semoga ketika menjadi guru, saya akan mampu mengetahui karakter siswa dengan baik, sehingga mampu mengembangkan metode pembelajaran yang dapat diterima oleh siswa agar pengetahuan dan pemikiran siswa semakin berkembang.

No comments:

Post a Comment